Revitalisasi Peran Masjid, Sebuah Upaya Memperbaiki Kondisi Umat

PIC_14-08-14_15-22-07OLEH: FEBY ARMA PUTRA (Koran Rakyat Bengkulu, 7 Mei 2016 hal.5)

”Tidak heran, jika masjid asas utama dan terpenting bagi pembentukan umat Islam. Karena umat muslim tidak akan terbentuk secara kokoh dan rapi kecuali komitmen terhadap sistem, akidah dan tatanan Islam. Dalam hal ini tidak dapat ditumbuhkan kecuali dengan semangat Masjid. (Sofyan Safri Harahap, 1996)

                 Berita tragis tentang kematian Yuyun, remaja berusia 14 tahun yang diperkosa oleh 14 pemuda,  warga Padang Ulak Tanding Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, yang tersebar luas sampai ke Nasional akhir-akhir ini,        mengusik nurani dan perasaan penulis untuk ikut bersuara agar kejadian seperti ini tak terulang kembali. Harus ada upaya serius untuk mencegahnya.

Banyak pihak yang bersuara telah mengecam; Presiden Joko Widodo mengecam dan meminta pelaku dihukum berat (KompasTv, 5/5/2016), Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengusulkan agar para pelaku diberi sanksi sosial yaitu dengan menyebar luaskan foto pelaku dan dikebiri serta telah bertemu langsung dengan para pelaku di Polres Rejang Lebong(TransTV, 6/5/2016Para aktifis perlindungan anak dan perempuan berharap hukuman pelaku diperberat. Muncul juga petisi di laman change.org untuk mengusulkan pengesahan RUU anti kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan serta menyebar di media social berita tentang Yuyun dengan hastag #YYAdalahkita, #Nyalauntukyuyun Dan masih banyak lagi lain. Intinya kasus ini telah menjadi isu Nasional.

Tetapi dari begitu banyaknya yang berkomentar, nyaris tidak terdengar para aktifis menyuarakan solusi-solusi Islam untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat seperti ini, kalaupun ada itu masih dipandang sebelah mata. Padahal barang siapa yang mencari solusi selain Islam, maka yang terjadi bukannya solusi tetapi justru akan memperburuk keadaan. Karena semua solusi permasalahan telah disiapkan oleh Islam. Islam itu Syumul (sempurna) dan Kamil (lengkap)

Langkah pertama dalam menyelesaikan masalah ini adalah kembali ke Masjid sebagaimana dulu Rasulullah SAW menggunakan masjid sebagai pusat seluruh aktifitas. Hal ini pula dulu yang pernah disuarakan oleh Rektor UHAMKA (Republika, 24/2/2015), dan sekarang penulis suarakan kembali.

Masjid Zaman Rasulullah SAW

Sejarah menunjukkan bahwa hal pertama yang dilakukan Rasulullah SAW ketika sampai di Madinah pada waktu ber-hijrah adalah membangun masjid. Kita juga membaca di dalam sejarah bahwa  masjid pada zaman Rasulullah SAW dijadikan sebagai the center of activities (pusat dari segala aktifitas) baik kemasyarakatan maupun pemerintahan.

Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi yaitu sebagai: (1) Tempat ibadah (shalat, zikir), (2) Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya). (3) Tempat pendidikan, (4) Tempat santunan social, (5). Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya, (6) Tempat pengobatan para korban perang, (7) Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, (8) Aula dan tempat menerima tamu, (9) Tempat menawan tahanan, dan (10) Pusat penerangan atau pembelaan agama. (Ilhamidi, 2013)

Mantan Imam Masjid al-Istiqlal yang juga seorang pakar hadits Indonesia, Ali Mustafa Ya’qub (Republika, 24/2/2014) menyebutkan ada lima fungsi Masjid di zaman Rasulullah SAW, yakni berfungsi sebagai (1) tempat ibadah, (2) tempat pembelajaran, (3) tempat musyawarah, (4) merawat orang sakit, dan (5) asrama.

Artinya memang masjid difungsikan secara maksimal demi kemajuan umat.

Kembali ke Masjid-lah Solusinya

Gambaran ideal dan prototipe peran dan fungsi Masjid pada zaman awal keislaman telah terlihat secara gamblang, itu semua memang tidak terlepas dari peran Rasulullah SAW. Bagaimana dengan peran dan fungsi masjid saat ini? Sebagian besar masjid saat ini baru bisa mengakomodasi satu fungsi, yaitu sebagai tempat ritual dan seremonial semata, namun kurang dari sisi lainnya.

Padahal masjid jangan cuma dipandang secara mikro dengan ritual ibadah sholat dan dzikir saja, tetapi harus juga secara makro, yaitu pelayanan social kemasyarakatan dan pencerahan lainnya (Afifatull Ikhwan, 2013). Untuk mewujudkan masjid berfungsi secara makro dan mikro semua harus bersatu padul karena ini tidak bisa dilakukan orang per orang saja, atau hanya pengurus saja. Semua orang, semua pengurus, semua organisasi keislaman harus bersinergi bersama agar bisa terwujud.

Jangan cuma bersemangat untuk membangun masjid, jangan cuma bersemangat untuk membesarkan masjid, jangan cuma bersemangat untuk mempercantik masjid, tetapi harus bersemangat juga untuk mengajak masyarakat memakmurkan masjid. Orang tua jangan ego, anak muda jangan juga sok tahu. Komunikasi antar semua elemenlah kuncinya.

Penulis mengutip Ayat Al-Qur’an agar kita menjadi yakin untuk menjadikan Islam sebagai solusi atas segala permasalahan kita.

“…Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3)

                Masjid ramai maka masyarakat akan menjadi damai dan sejahtera.

Peran Masjid Sekolah, Kampus dan Lingkungan

                Kalau kita bagi jenis masjid berdasarkan tempat maka ada 3 jenis masjid, yaitu Masjid sekolah, kampus dan lingkungan. Setiap masjid mempunyai peranan masing-masing sesuai dengan masyarakat dimana masjid itu berada. Serta tipe kegiatan yang bisa dilakukan-pun menyesuaikan dengan karakter jamaahnya.

Masjid sekolah adalah awal pembentukan, karena di usia sekolah-lah penanaman nilai-nilai yang sangat tepat. Pada usia sekolah, masjid sekolah hendaknya mengadakan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik pelajar yang cendrung ingin sedikit main-main tapi terarah, menunjang kegiatan-kegiatan akademik, dan kegiatan-kegiatan di lapangan juga akan menjadi seru bagi mereka. Jika masjid-masjid sekolah hidup dengan kegiatan-kegiatan yang dibimbing secara ikhlas oleh guru-guru maka akan berpengaruh signifikan terhadap adab dan akhlaq pelajar-pelajar yang dibimbing.

Lalu bagaimana dengan masjid kampus? Masjid kampus adalah masjid yang lebih tertata dan variatif dalam mengelola masjidnya dibandingkan dengan masjid lingkungan dan masjid sekolah. Mungkin karena yang banyak mengelola adalah para mahasiswa dan dosen. Dalam konteks sekarang, masjid kampus mempunyai peran yang sangat besar karena di kampus tempat membentuk calon-calon pemimpin masa depan.

Mohammad Nuh (Birohmahnews, 1/8/2014) menjelaskan paling tidak ada 3 peran penting masjid kampus  diantaranya: (1) Pencipta atmosfir kesejukan, (2) Masjid kampus harus ikut terlibat dalam proses menanam dan menyemai benih-benih kemuliaan dengan pelayanan kepada civitas akademika, (3) Ikut mencari benih kebaikan dengan memberikan layanan bagi anak-anak sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah sebab mereka adalah benih-benih yang luar biasa

Kalau 2 tipe masjid di atas (masjid sekolah dan masjid kampus) sudah berjalan, maka benih-benihnya akan menyebar ke masjid-masjid lingkungan tempat mereka berasal dan berada. Dengan catatan masjid-masjid lingkungan harus membuka diri terhadap pembaharuan dari anak-anak muda. Jangan sampai semangat memperbaiki melalui masjid justru terbentur dengan gap antara generasi muda dan generasi tua sebagaimana yang terjadi di banyak tempat di berbagai daerah saat ini

InsyaAllah dengan penyelesaian masalah berbasis masjid ini akan lebih utuh dan berkesinambungan ke depannya serta lebih berkah untuk kita semua. Maka sudah menjadi sebuah keniscayaan yang tak bisa ditunda dan dipungkiri bagi umat Islam untuk melakukan revitalisasi peran dan fungsi Masjid jika ingin menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat saat ini. Doa and do the best. Keep on fighting for the better Indonesia (*Penulis adalah penggiat dakwah kampus dan dakwah sekolah Bengkulu, pengelola blog:dangfeby.wordpress.com)

(baca juga: Perguruan Tinggi ciptakan sarjana Pengangguran?)

reviva masjid

Iklan

3 tanggapan untuk “Revitalisasi Peran Masjid, Sebuah Upaya Memperbaiki Kondisi Umat”

    1. kalau yang itu memang udah dihapus, soalnya pusing ngelolalnya kalau kebanyakan. skrg cuma ngelola 2 blog, dangfeby.wordpress.com & pembelajarbahasainggris.wordpress.com

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s