Menulis dan Teruslah Berkarya!

Dalam sebuah Seminar yang bertajuk “Membuat Anak Gila Membaca“, Bapak Fauzil Adhim mengatakan bahwa ada beberapa profesi yang sangat diapresiasi oleh orang-orang Jepang, salah satunya adalah penulis.

Bagaimana dengan di negara kita Indonesia? Belum sampai setinggi di Jepang apresiasinya. Ya itulah negara kita. Ditambah memang budaya membaca dan menulis belum terlalu memasyarakat. Bisa jadi karena menulis dianggap sebagai sesuatu yang sulit. Padahal sejatinya menulis adalah sesuatu yang mudah dan menyenangkan. 🙂

Tapi terlepas dari itu semua, tetaplah belajar untuk banyak membaca dan menulis. Itu akan sangat berguna bagi kita semua di masa yang akan datang.

Tidakkah kita ingin “usia nama” kita lebih panjang dari “usia jasad” kita?

Tidakkah kita ingin dikenang anak cucu kita dengan bangga?

USIA JASAD vs USIA NAMA

Secara umum, usia itu terbagi 2, yaitu ; usia jasad dan usia nama. Usia jasad maksudnya adalah umur yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita sampai batas waktu yang ditentukan (meninggal dunia). Sedang usia nama adalah usia dimana nama kita dikenang/disebut-sebuy oleh orang lain.

Bisa jadi, dan memang sangat logis jika usia nama kita bisa lebih panjang dari usia jasad kita. Kenapa? Karena ada karya, baik karya yang bersifat positif dan karya yang bersifat negatif. Tetapi kontrks tulisan ini adalah karya dalam hal yang positif dan membanggakan, bukan yang negatif. Buat apa usia nama panjang tetapi yang dikenang dan disebut-sebut orang adalah keburukan dan kejahatan kita. Malu-maluin.

Coba pikir, kenapa banyak orang tidak mengingat nama Poyang (great grandparent) mereka? Salah satu faktornya adalah karena Poyang kita dulu tidak banyak karya yang membuat nama mereka dikenang.

Nama leluhur kita hilang ditelan zaman. Umur nama-nama leluhur kita tidak begitu panjang, atau bahkan bisa jadi umur namanya sama dengan umur jasadnya.

Kita berbicara tetang leluhur bukan bermaksud untuk menyesali mereka, tetapi kita bermaksud mengambil ibroh (pelajaran/hikmah) dari itu semua sembari mendoakan mereka semua masuk surga dan diampuni dosa-dosanya serta diterima seluruh amal baiknya. Aamiin

Meneladani Para Ulama dalam Menulis

Tertulis dalam kitab Tadzkiratul Huffadz (2/217) tentang Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At Thabary rahimahullah. Beliau telah menulis banyak kitab dalam berbagai bidang ilmu. Seandainya jumlah seluruh kertas yang telah ditulisnya dibagi dengan jumlah umurnya, maka seakan setiap hari beliau menulis enam puluh lembar lebih. Suatu ketika beliau menyuruh murid – muridnya untuk menulis tarikh islam atau tafsir, lalu beliau meminta disediakan tiga puluh ribu lembar kertas. Maka para muridnya berkata: “Pekerjaan ini akan membutuhkan waktu yang sangat panjang”, maka beliau berkata kepada mereka: “Allahu Akbar ! telah matikah semangat kalian, sediakan tiga puluh ribu lembar kertas”

Dinukil dari kitab ‘Uluwul Himmah, karya Syaikh Muhammad Al Muqoddam tentang para ulama yang sangat rajin menulis dan mengarang kitab berdasarkan keilmuan yang mereka miliki, Misalnya;

  1. Imam Abul Wafa’ ‘Ali bin ‘Aqil Al Hambali Al Baghdadi  (wafat: 513 H) –manusia tercerdas di jagad raya kata Ibnu Taimiyah-, beliau menulis kitab Al Funun dalam 800 jilid, di mana di dalamnya berisi pembahasan tafsir, fikih, nahwu, ilmu bahasa, sya’ir, tarikh, hikayat dan bahasan lainnya.
  2. Imam Abu Hatim Ar Rozi menulis kitab musnad dalam 1000 juz.
  3. Ibnul Jauzi (Abul Faroj ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al Jauzi, wafat: 597 H), murid dari Ibnu ‘Aqil, beliau telah menulis 2.000 jilid buku dan buku yang beliau pernah baca adalah 20.000 jilid. Adz Dzahabi sampai mengatakan tentang Ibnul Jauzi bahwa tidak ada yang semisal beliau dalam berkarya

 

AYO Menulis agar dikenang dan bermanfaat bagi yang lain!

Lihatlah contoh para ulama yang telah disebutkan sebelumnya, begitu banyak karya mereka yang membuat nama Para Ulama tersebut terus dikenang sampai sekarang. Berapa banyak orang, dari zaman ketika ulama tersebut hidup hingga sekarang, yang telah merasakan manfaat dari ilmu dan kitab yang telah Para Ulama tersebut tulis.

Ayo, Marilah Menulis, mulailah menulis dan  teruslah menulis. Jangan pernah berhenti menulis sesusah apapun itu. Yakinlah bahwa jerih payah kita dalam menulis akan memberikan manfaat yang besar bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Berikanlah kemanfaatan yang banyak bagi orang lain. Jika kita hanya mengandalkan lisan kita saja, maka orang yang menerima akan terbatas dan hanya dalam kurun waktu kita menyampaikan saja yang mendengarkan/mendapatkan manfaatnya. Tetapi jika kita menulis, maka manfaatnya bisa diperoleh lebih banyak orang dan lebih lama waktunya.

Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir, 12: 453).

Lalu pertanyaan akan muncul. Apa yang harus dituliskan? jawabannya Tulis apa saja yang ada dalam kepalamu, hatimu dan rasamu. Buatlah namamu dikenang dan ilmu-mu bermanfaat bagi orang lain.

Trust me, it wotks!

Semangat!

#InsanCitaSerang #IslamiCerdasSantun #ICS

Dang Feby bin Syamsuhar Bahar, Ba’da Isya 9 Agustus 2017 di Pesantren Terpadu Insan Cita Serang, Banten

Iklan

6 thoughts on “Menulis dan Teruslah Berkarya!”

  1. “Menulislah nak!” “ngapain pak, nih ujian nasional sudah selesai, hehe”
    semoga menulis jadi hobi kita semua, semuanya.
    saya juga mulai mengexplore kemampuan menulis saya selain skill translate yg gitu-gitu mulu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s