Arsip

Archive for the ‘Fiqh’ Category

Peristiwa Gerhana; Ajaran dan Etika Menyambutnya

Ust SyamlanOleh KH.Muhammad Syamlan, Lc

Gerhana bukanlah sesuatu yang baru. Sudah pernah terjadi semenjak zaman dahulu. Pada zaman Nabi pun pernah terjadi peristiwa ini. Nah, bagaimana menyikapi terjadinya peristiwa ini menurut ajaran Islam? Mari kita simak penuturan seorang sahabat yang bernama Mughirah. “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Baca selanjutnya…

Seharusnya Tidak Langsung Qamat

Oleh KH. Muhammad Syamlan,Lc

ust KH Syamlan,LcDari Hati ke Hati

Harian RB, 30-05-2013

Ada kebiasaan yang perlu diluruskan. Yaitu, setelah adzan langsung qamat tanpa ada jedah. Khususnya adzan maghrib dan isya’. Perlu diketahui, bahwa antara adzan dan qomat itu perlu ada jedah. Pertma, karena waktu antara adzan dan qamat adalah waktu yang mustajab. Maka seharusnya orang yang sudah berada di masjid setelah adzan menggunakan atau diberi kesempatan untuk berdoa. Nabi Saw. bersabda: “Laa yuraddu ad-du’a bainal adzan wal iqamah. Tidak ditolak doa antara dua adzan dan qamat.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi).   Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh

Mengundang Makan, Shalat Sunnah Dan Berdoa di Rumah

Oleh KH. Muhammad Syamlan, Lc

images (55) عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ « قُومُوا فَأُصَلِّىَ لَكُمْ ». قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدِ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ. (مسلم)

وفي رواة له: فِى غَيْرِ وَقْتِ صَلاَةٍ فَصَلَّى بِنَا… ثُمَّ دَعَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ فَقَالَتْ أُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ خُوَيْدِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَهُ. قَالَ فَدَعَا لِى بِكُلِّ خَيْرٍ وَكَانَ فِى آخِرِ مَا دَعَا لِى بِهِ أَنْ قَالَ « اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ ». (مسلم)

Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh

Ikutlah Shalat Meski Anda Sudah Shalat

images (24)Oleh : KH. Muhammad Syamlan, Lc

عَنْ يَزِيدَ بْنِ اَلْأَسْوَدِ – رضي الله عنه – – أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلَاةَ اَلصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: “مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?” قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: “فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ اَلْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ” – رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ (بلوغ المرام)

Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah shalat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah usai sholat, tiba-tiba ada dua orang lelaki tidak ikut shalat. Maka Nabi minta dipanggilakan dua orang itu. Maka dihadapkanlah kedua orang itu dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut shalat bersama kami?” Mereka menjawab: Kami telah shalat di tempat kami. Beliau bersabda: “Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah shalat di tempat kalian, kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka shalatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunah (tambahan pahala) bagimu.” (Hr. Ahmad dan Imam Tiga dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits ini shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban, BM)

Catatan: Hadits ini juga dinyatakan shahih oleh Al-Albani dan Arnauth.

Pelajaran:

  1. Pentingnya shalat berjamaah di masjid.
  2. Orang yang sudah shalat di suatu tempat, termasuk karena sudah dijama’, lalu masuk suatu masjid yang melakukan shalat berjamaah maka hendaknya ikut shalat berjamaah di masjid itu.
  3. Tidak layak bagi orang yang berada di suatu masjid lalu tidak ikut shalat berjamaah yang sedang dilakukan di masjid itu meski ia sudah shalat di tempat lain.
  4. Pentingnya kebersamaan dan buruknya memencilkan diri dari kekegiatan kaum Muslimin, selama tidak dalam kemunkaran.
  5. Pentingnya mengingatkan, memberi tahu atau menegur orang yang berlaku tidak baik, khususnya di masjid, seperti orang yang berada di masjid tapi tidak ikut shalat berjamaah di masjid itu meski dengan alasan sudah shalat, apalagi yang memang belum shalat.
  6. Shalat di waktu terlarang tetap disyari’atkan bila ada sebab.
  7. Boleh mengulangi shalat fardhu bila ada sebab syar’i yang membenarkannya. Bila sebelumnya tidak berjamaah atau berjamaah tapi tidak di masjid, maka anggap yang pertama sunnah dan kedua adalah fardhu. Atau bila tadi sudah berjamaah di masjid, maka anggap yang kedua adalah sunnah. Atau, serahkan saja kepada Allah untuk menilainya.
  8. Hadits yang melarang: “Laa tushallu shalatan fil yaumi marratain (Janganlah kalian shalat satu shalat (fardhu) dalam sehari dua kali).” (Hr. Ahmad, Abu Dawud dan Nasa’i, NA) Tidaklah bertentangan dengan hadits Yazid di atas. Karena yang dilarang adalah shalat fardhu dua kali yang dilakukan tanpa sebab syar’i yang membenarkan. Seperti shalat sendiri, lalu diulang lagi sendiri. Di samping, shalat dua kali sebagaimana dalam hadits (Yazid bin Aswad) di atas adalah salah satunya menjadi sunnah.
  9. Antara imam dan makmum boleh beda shalat dan niat. Boleh imam shalat wajib sedang makmum shalat sunnah, atau sebaliknya imam shalat sunnah dan makmum shalat wajib. Begitu juga, boleh imam shalat ashar sedang makmum shalat dhuhur.

10.  Kewibawaan Nabi Saw.. Padahal Beliau adalah orang yang paling tawadhu’, penuh rahmat dan penyantun. Banyak orang yang salah, mengira bahwa wibawa itu didapat dengan sikap yang keras, suka marah dan kasar. Wallahu a’lam

Muhammad Syamlan, Kajian Kitab Bulughul Maram, Selasa Shubuh, Masjid Al-Iman Tanah Patah Kota Bengkulu.

Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh

Larangan Pakaian Syuhrah

Oleh KH. Muhammad Syamlan, Lc

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه أحمد والنسائي وابن ماجه والبيهقي) وعند أبي داود: مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ.

523308_461785330553971_769494677_nDari Ibnu Umar ra., Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia maka Allah memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat. (Hr. Ahmad, Nasai, Ibnu Majah dan Baihaqi) Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh

“RUMAH RUMAH YANG MALAIKAT MALAS MENGUNJUNGINYA

Berawal dari pemikirang yang agak ngenyel, alhamdulillah setelah baca-baca dari referenasi yang dipercaya ditemukan jawabannya Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh

Saat sujud, kedua telapak kaki direnggangkan atau dirapatkan?

Muhammad Syamlan

Saat sujud, kedua telapak kaki direnggangkan atau dirapatkan? Dalam hal ini ada dua pandangan di kalangan para ahli fiqih. Pertama, disunnahkan agar kedua telapak kaki direnggangkan. Pandangan ini dikemukan oleh para ulama dari Madzhab Syafi’i dan Hambali. Dalilnya hadits Abu Humaid yang diriwayatkan Abu Dawud, Baihaqi, dll. :
وَإِذَا سَجَدَ فَرَّجَ بَيْنَ فَخِذَيْهِ غَيْرَ حَامِلٍ بَطْنَهُ عَلَى شَىْءٍ مِنْ فَخِذَيْهِ
(Dan apabila Nabi Saw sujud, beliau merenggangkan kedua pahanya sehingga tidak ada sesuatu yang menyangga antara lambungnya dan kedua pahanya). Baca selanjutnya…

Kategori:Fiqh